DIUBAH MELALUI PENYERAHAN DIRI
Okt 2026 | 19 - 25 Okt 2026

Roma 6:13
Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.
Roma 6 mengajarkan bahwa melalui Kristus kita telah mati bagi dosa dan menerima hidup yang baru. Namun, mengalami hidup baru tersebut melibatkan pilihan setiap hari: Kepada siapakah kita akan menyerahkan diri kita?
Transformasi bukan sekadar meminta Allah untuk memperbaiki hidup kita. Transformasi adalah menempatkan hidup kita di dalam tangan-Nya dan mengizinkan Dia mengubah cara kita hidup. Hidup baru ini adalah pemberian Allah yaitu kasih karuniaNya yang diberikan bagi kita. Kita tidak dapat mengusahakannya melalui upaya, kedisiplinan, atau perbuatan baik kita sendiri. Walaupun hidup baru diberikan oleh kasih karunia, belajar menjalani hidup baru tersebut melibatkan respons harian kita kepada Allah. Paulus menggambarkan respon tersebut dengan kata "serahkanlah": Serahkanlah dirimu kepada Allah… Dengan kata lain, persembahkanlah dirimu kepada Allah. Tempatkanlah dirimu di bawah kehendak-Nya. Serahkanlah dirimu kepada-Nya. Di sinilah transformasi menjadi sesuatu yang praktis. Mari kita lihat lebih dalam tentang bagaimana transformasi itu dimulai:
1) Transformasi menuntut kita untuk meninggalkan kehidupan yang lama.
Kasih karunia tidak memberi kita ruang untuk terus hidup seperti manusia lama. Karena kita milik Kristus, kita dipanggil untuk menganggap diri kita mati bagi dosa dan hidup bagi Allah. Kita mungkin masih menghadapi godaan dan kebiasaan lama, tetapi hal-hal itu tidak lagi memiliki hak untuk menguasai kita. Terkadang kita ingin Allah mengubah keadaan kita tanpa menyerahkan diri kita sendiri. Kita meminta Dia untuk mengubah situasi kita, mengubah orang-orang di sekitar kita, mengangkat kesulitan kita, atau membuat hidup kita menjadi lebih baik. Namun, pekerjaan transformasi Allah sering kali dimulai bukan dari luar: Dia memulainya dari diri kita sendiri.
Roma 6:11
Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.
Sebelum mengenal Kristus, dosa menguasai kita. Namun melalui Kristus, kuasa itu telah dipatahkan. Ini tidak berarti bahwa orang Kristen tidak akan pernah bergumul dengan godaan, keinginan yang salah, kebiasaan yang tidak sehat, kemarahan, kesombongan, mementingkan diri sendiri, ketakutan, atau kelemahan lainnya. Perbedaannya adalah bahwa hal-hal tersebut tidak lagi berhak menjadi tuan atas kita.
Paulus mengatakan bahwa kita harus "menganggap" diri kita mati bagi dosa dan hidup bagi Allah. Ini berarti kita harus belajar melihat diri kita sesuai dengan apa yang telah diselesaikan oleh Kristus.
Kehidupan lama mungkin masih memanggil kita kembali. Kebiasaan lama mungkin masih terasa akrab. Reaksi lama mungkin masih muncul secara alami. Luka lama mungkin masih memengaruhi emosi kita.
Cara berpikir yang lama mungkin masih muncul dalam pikiran kita. Namun, transformasi berarti kita tidak lagi berkata, "Inilah diri saya apa adanya." Sebaliknya, kita mulai berkata: "Ini mungkin pernah menjadi bagian dari kehidupan lama saya, tetapi ini tidak harus mendefinisikan kehidupan baru saya di dalam Kristus." Transformasi terjadi ketika kita berhenti melindungi hal-hal yang ingin diubah oleh Allah.
2) Apa yang kita serahkan kepada Allah menjadi berguna untuk tujuan-tujuan-Nya.
Paulus memberi tahu kita untuk menyerahkan diri kita sebagai senjata-senjata kebenaran. Kemampuan, waktu, perkataan, hubungan, sumber daya, dan bahkan kelemahan kita dapat menjadi alat yang digunakan Allah ketika semua itu diserahkan kepada-Nya. Transformasi yang berkesinambungan adalah bergerak dari "Apa yang aku inginkan?" menuju "Tuhan, bagaimana Engkau ingin menggunakan hidupku?"
Roma 6:19
…demikian kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.
Sebuah alat adalah sesuatu yang ditempatkan di tangan seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, pertanyaan pentingnya adalah: Di tangan siapakah hidup saya berada?
Kemampuan kita dapat menjadi alat bagi Allah. Waktu kita dapat menjadi alat bagi Allah. Perkataan kita dapat menguatkan dan membangun orang lain. Sumber daya kita dapat menjadi berkat bagi sesama. Hubungan kita dengan orang lain dapat menunjukkan kasih Allah. Pengalaman kita dapat menguatkan orang lain. Bahkan kelemahan dan pengalaman pahit kita dapat menjadi sesuatu yang Allah gunakan bagi kemuliaan-Nya.
Masalahnya bukan sekadar apa yang kita miliki. Masalahnya adalah apakah apa yang kita miliki telah diserahkan. Talenta yang diserahkan kepada Allah menjadi pelayanan. Sumber daya yang diserahkan kepada Allah dapat memberkati orang lain. Perkataan yang diserahkan kepada Allah dapat memberikan semangat bagi orang lain. Waktu yang diserahkan kepada Allah menjadi suatu pelayanan. Pengaruh yang diserahkan kepada Allah menjadi kesempatan untuk mengarahkan orang lain kepada Kristus. Bahkan kelemahan yang diserahkan kepada Allah dapat menjadi kesaksian akan kasih karunia-Nya.
Refleksi :
Transformasi terjadi saat penyerahan diri menjadi suatu gaya hidup. Mungkin ada area-area di mana kita dengan senang hati mengikut Allah dan area-area lain yang masih kita coba kendalikan. Allah mengundang kita untuk menempatkan area-area tersebut ke dalam tangan-Nya juga.
Referensi





Comments