top of page

PENYEMBAHAN YANG TAK TERGOYAHKAN

Oct 2025 | 29 Sep - 5 Oct 2025

ree

Nehemia 8:10

Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: ”Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!”, karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu.

Latar belakang sejarah: 

Orang Israel ​​baru saja mendengar Hukum Taurat dibacakan dan dijelaskan dalam Nehemia 8 : 1 - 8, tetapi reaksi yang diberikan oleh mereka hanyalah tangisan dan kesedihan karena mereka menyadari betapa jauhnya mereka telah menyimpang dari Allah. Namun Nehemia, Ezra, dan orang-orang Lewi menasehati mereka untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Mengapa? Karena ibadah mereka tidak dimaksudkan untuk berakhir dengan keputusasaan, melainkan dengan sukacita. Mereka harus merayakan dengan sukacita, dan berbagi dengan sesama.


Dengan cara bagaimana Nehemia 8:10 mencerminkan gagasan mengenai penyembahan yang tak tergoyahkan?


  1. Penyembahan Mengubah Rasa Bersalah Menjadi Sukacita


Nehemia 8:10

Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis! …

Alih-alih diremukkan oleh rasa bersalah, kita semua diundang untuk bersukacita dalam belas kasihan Allah. Ibadah sejati tidak berakar pada rasa takut atau malu, melainkan pada sukacita yang datang dari pengenalan akan kasih karunia Allah.


  1. Penyembahan Menambatkan Kekuatan Dalam Tuhan


Mazmur 28:7

TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.

Nehemia tidak mengatakan "kekuatanmu ada pada apa yang kamu punya" atau "kekuatanmu ada pada pasukanmu." Ia mengatakan kekuatan berasal dari sukacita Tuhan, yaitu sukacita yang mendalam yang berakar di hadirat Allah. Itulah yang membuatnya tak tergoyahkan.


  1. Penyembahan Mempersatukan Manusia


Mazmur 34:3

Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.

Sukacita mereka bukan bersifat individual melainkan komunal, mereka merayakan bersama, saling menguatkan dalam iman. Ibadah yang tak tergoyahkan melawan kekuatan keputusasaan dan perpecahan, serta menyatukan mereka.


  1. Penyembahan Mengubah Kelemahan Menjadi Ketangguhan


Yesaya 40:31

tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Mereka berada di masa yang rapuh, membangun kembali tembok, menghadapi pertentangan, dan memulihkan jati diri. Dengan memusatkan kekuatan mereka pada sukacita Tuhan, mereka dapat bertahan dalam pencobaan tanpa goyah.


Ketika kita menyembah, ratapan kita diubahkan menjadi sukacita dalam hadirat Tuhan. Penyembahan mengubah setiap rasa bersalah menjadi sukacita, dari lemah menjadi kuat, dari ketakutan menjadi iman yang penuh dengan pengharapan. Hal itu menjadi jangkar yang membuat kita tetap teguh ketika hidup menggoncangkan kita.


Refleksi : 

Ketika rasa bersalah atau malu mencoba menguasai kita, masuk dalam penyembahan, ingatlah bahwa Kristus telah mengampuni dan memulihkan kita. Ketika kita merasa lemah, ambilah kekuatan kita bukan dari kemampuan kita sendiri, melainkan dari bersukacita atas siapa Tuhan itu. Di masa-masa ketidakpastian, biarkan penyembahan memenuhi hati kita dengan sukacita Tuhan.


Referensi



ree

Comments


bottom of page