top of page

DIKIRIM DENGAN TUJUAN

Dec 2025 | 8-14 Dec 2025

ree

Yesaya 6:8

Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: ”Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: ”Ini aku, utuslah aku!”

Setiap misi dimulai dengan sebuah panggilan. Sebelum Yesaya diutus, ia pertama kali bertemu dengan kekudusan Allah, dan kemudian dalam sekejap, hal itu mengubah segalanya. Jawabannya, "Ini aku, utuslah aku," datang dari hati yang telah dibersihkan dan diubahkan.


Kerelaan Yesaya datang setelah kesadaran yang mendalam akan kasih karunia. Ia menyadari bahwa ia tidak layak, namun Allah menyucikannya dan memberinya tujuan. Demikian pula, Allah memanggil kita bukan karena kita sempurna, tetapi karena Dia ingin menunjukkan kasih karunia-Nya melalui diri kita.

Saat kita memulai misi gereja kita ke Singkawang minggu ini, semoga hidup kita mencerminkan terang dan kasih Tuhan kepada orang-orang yang kita layani di sana. Misi bukan hanya tentang bepergian ke tempat-tempat baru, tetapi tentang bagaimana menjadi wadah kehadiran Tuhan di mana pun kita berada. Setiap hari, kita membawa terang-Nya ke dunia yang membutuhkan, baik di tempat yang jauh maupun di tempat-tempat yang familiar seperti tempat kerja kita, sekolah kita, dan lingkungan kita, hingga setiap hati berjumpa dengan Kristus.


Dari perjumpaan Yesaya dengan Tuhan, kita dapat menemukan wawasan bermakna yang membentuk pemahaman kita tentang misi.


  1. Misi Dimulai dengan Pertemuan dengan Tuhan

Sebelum Yesaya berkata, "Utuslah aku," ia melihat Tuhan yang tinggi dan mulia (Yesaya 6:1). 

Misi mengalir dari penyembahan, dari melihat siapa Allah sesungguhnya. Ketika kita ditaklukkan oleh kemuliaan-Nya, kita tidak bisa tinggal diam. Sudahkah kita membiarkan visi kita tentang Allah menginspirasi ketaatan kita pada misi-Nya?


  1. Misi Membutuhkan Hati yang Bersih

Yesaya berseru, "Celakalah aku!" sebelum ia sempat berkata, "Utuslah aku!"

Sebelum mengutus kita, Allah terlebih dahulu bekerja di dalam diri kita. Ia menghapus rasa bersalah dan menyembuhkan apa yang rusak agar kita dapat menyampaikan pesan-Nya dengan kerendahan hati dan ketulusan. Aspek kehidupan apa saja yang membutuhkan penyucian Allah sebelum kita dapat sepenuhnya mewakili-Nya?


  1. Misi adalah tindakan sukarela, Bukan Kewajiban yang Dipaksa 

Allah tidak memaksa Yesaya; Ia mengundangnya. Misi bukanlah kewajiban, melainkan undangan untuk bermitra dengan Allah dalam karya penebusan-Nya. Mengatakan "Ini aku" berarti menyerahkan kenyamanan kita demi panggilan Allah. Bersediakah kita mengatakan "Ini aku" bahkan ketika kita tidak tahu ke mana Ia akan mengutus kita?


Refleksi :  

Panggilan Tuhan masih bergema hingga kini, "Siapakah yang akan Kuutus?" Misi dimulai ketika seseorang menjawab, "Ini aku. Utuslah aku." Biarlah ini menjadi doa dan sikap kita agar dimanapun Tuhan menempatkan kita, kasih-Nya akan bersinar melalui hidup kita.


Referensi



ree

 
 
 

Comments


bottom of page